
Menariknya, akselerasi kredit terutama didorong oleh pembiayaan untuk kegiatan investasi. Kredit Investasi tumbuh 25,13 persen yoy, jauh lebih tinggi dibandingkan Kredit Modal Kerja yang tumbuh 11,04 persen yoy dan Kredit Konsumsi sebesar 5,38 persen yoy.
Dari sisi debitur, korporasi menjadi motor pertumbuhan dengan kredit yang meningkat 22,10 persen yoy. Sementara kredit UMKM juga mulai menguat, dengan pertumbuhan 1,62 persen yoy pada Juli 2026, naik dari 1,05 persen yoy pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan kepemilikan, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,95 persen yoy.
Akselerasi penyaluran kredit tersebut belum menimbulkan lonjakan risiko yang berarti. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,10 persen pada Juli 2026, relatif stabil dibandingkan 2,09 persen pada Juni.
Sementara NPL net membaik menjadi 0,81 persen dari 0,82 persen.
Rasio Loan at Risk (LaR) juga turun dari 8,47 persen menjadi 8,39 persen. Di sisi permodalan, ketahanan industri perbankan semakin kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang meningkat menjadi 23,84 persen dari 23,70 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan ruang ekspansi perbankan masih cukup kuat dengan risiko yang tetap berada dalam kondisi terjaga.





