
Dominic juga menyoroti pentingnya kemitraan strategis kedua negara dalam mendukung pertumbuhan hijau yang inklusif. Pengembangan inovasi rendah karbon dan ekonomi sirkular diharapkan berkontribusi terhadap upaya mengurangi emisi serta mencapai target net zero emissions.
Dalam kunjungan tersebut, Dominic turut memperoleh kesempatan bertemu mahasiswa dan mengenal potensi penelitian Sulawesi Selatan, termasuk kekayaan sejarah berupa lukisan gua prasejarah di kawasan Leang-Leang.
Sementara itu, Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa kolaborasi internasional berperan penting dalam mendorong riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari penerapan pengetahuan untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.
“Kerja sama ini sangat luar biasa bagi Unhas, terutama dalam mengembangkan riset agar hasilnya benar-benar menjadi solusi. Salah satu persoalan yang perlu kita jawab bersama adalah bagaimana mengonversi sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Jamaluddin.
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi rendah karbon perlu dihubungkan dengan manfaat sosial dan ekonomi. Melalui ekonomi sirkular, sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang usaha.





