
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing. Kita ingin setiap RT mampu mengelola sampahnya, sehingga yang keluar dari lingkungan benar-benar hanya residu,” ujar Melinda.
Dalam evaluasi tersebut, Melinda juga menyoroti masih adanya praktik pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan. Kondisi itu, menurutnya, menunjukkan perlunya pengawasan lebih intensif sekaligus edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Kelurahan Tamangapa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus. Wilayah tersebut memiliki tujuh RW dan 43 RT, dengan dukungan 18 teba serta empat Bank Sampah Unit (BSU).
Melinda mendorong Kluster Berlian di Tamangapa menjadi percontohan pengelolaan sampah secara mandiri. Sistem yang dinilai telah berjalan baik di kawasan tersebut diharapkan dapat diterapkan di lingkungan lain.
“Kalau ada lingkungan yang sudah berjalan baik, kita jadikan contoh dan direplikasi. Jangan berhenti pada satu titik, tetapi diperluas ke lingkungan lainnya,” katanya.
Selain memperkuat edukasi di tingkat RT, Melinda meminta penambahan fasilitas seperti teba, komposter, dan mesin pencacah dilakukan apabila sarana yang tersedia telah mencapai kapasitas maksimal.





