
Dalam pidatonya, Xanana juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam melahirkan pemimpin masa depan. Menurutnya, kepemimpinan tidak bisa dibentuk hanya dengan menunjuk seseorang atau memberikan label sebagai pemimpin.
Pemimpin lahir melalui proses belajar, pengalaman, kemampuan mengamati, meneliti, serta memahami persoalan secara mendalam. Karena itu, universitas harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan pola pikir kritis dan ilmiah.
Xanana kemudian mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada Google maupun AI. Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, kata dia, berisiko membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
“Teknologi seharusnya membantu manusia menyelesaikan masalah, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir,” pesan Xanana.
Ia menilai generasi muda yang mampu meneliti, mencari solusi, memahami persoalan, dan memiliki visi masa depan merupakan fondasi penting bagi lahirnya pemimpin dunia.
Sebelum menghadiri penganugerahan gelar doktor HC di Unhas, Xanana juga bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah. Pertemuan tersebut membahas tantangan dan peluang Indonesia serta Timor Leste di tengah dinamika global.(*)





