
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari sekaligus mempraktikkan seluruh tahapan produksi tepung sukun, mulai dari sortasi bahan baku, pengupasan, pengirisan, proses blanching, pengeringan, penepungan, hingga pembuatan tepung sukun termodifikasi melalui teknologi pregelatinisasi.
Secara ilmiah, proses blanching berfungsi menghambat aktivitas enzim penyebab pencokelatan sehingga warna dan mutu tepung lebih terjaga. Sementara itu, teknologi pregelatinisasi memodifikasi struktur pati sehingga menghasilkan tepung dengan sifat fungsional yang lebih baik dan lebih mudah diaplikasikan pada berbagai produk pangan.
Dr. Asfar menegaskan bahwa tepung sukun merupakan produk antara (intermediate product) yang memiliki prospek industri lebih luas dibandingkan buah segar. Tepung tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk seperti cookies, brownies, bolu, aneka kue tradisional, maupun pangan inovatif lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Seluruh materi pelatihan dibawakan dengan metode learning by doing. Peserta memahami konsep sekaligus menerapkan prosedur produksi secara mandiri sesuai standar yang telah diperkenalkan.





